Yuga Anggana memulai penelitiannya tentang Ritus Kebangru’an dengan langkah yang sederhana namun penuh kesungguhan: turun langsung ke lapangan, menyelami kehidupan masyarakat adat di Dusun Benyer, Desa Telaga Waru, Pringgabaya. Ia tidak hanya datang sebagai peneliti, tetapi juga sebagai seorang musisi sekaligus pendidik yang mencoba memahami irama kehidupan yang terjalin antara manusia, alam, dan roh leluhur.
Setiap kunjungan ke Benyer selalu ia isi dengan observasi partisipatif. Ia hadir di tengah-tengah masyarakat ketika ritus dijalankan—menyaksikan bagaimana musik Sekaha dimainkan, bagaimana seseorang mengalami bangru’ (kesurupan), dan bagaimana air dari Mualan Benyer digunakan sebagai media penyucian. Bagi Yuga, momen-momen itu tidak hanya layak dicatat dalam catatan lapangan, melainkan juga ditangkap dalam rekaman suara dan gambar agar bisa diolah lebih jauh menjadi bahan kajian.
Ia mewawancarai para tokoh adat, penabuh musik, dan warga yang terlibat dalam ritual, menggali cerita tentang asal-usul ritus, makna simbolik air suci, hingga pengalaman spiritual pribadi mereka. Percakapan yang mengalir di beranda rumah warga atau di tepi mata air itu memberinya pemahaman mendalam bahwa ritus Kebangru’an bukan sekadar pertunjukan budaya, melainkan sebuah metode penyembuhan, media komunikasi dengan leluhur, sekaligus cara masyarakat menjaga keseimbangan dengan alam.
Proses penelitian itu kemudian berkembang menjadi kerja kolaboratif. Yuga mengemas temuannya dalam bentuk tulisan ilmiah, yang ia presentasikan melalui jurnal akademik, sekaligus menggarapnya dalam medium seni visual berupa film dokumenter. Ia mengajak komunitas seni Menduli Selayar untuk merekam prosesi ritus Kebangru’an, sehingga masyarakat luas dapat melihat keunikan dan kekuatan spiritual yang terkandung di dalamnya. Tidak berhenti di situ, ia menyusun draf buku dan mengadakan Focus Group Discussion (FGD) bersama tokoh adat, akademisi, dan seniman, menjadikan riset ini sebagai ruang dialog antara tradisi dan modernitas.
Dengan cara itu, Yuga memperlihatkan bahwa penelitian kualitatif tidak hanya berhenti pada teks akademis, tetapi bisa menjelma menjadi narasi lintas medium—dari jurnal, diskusi, hingga film. Penelitiannya tentang kearifan lokal dalam ritus Kebangru’an menjadi sebuah jembatan: menghubungkan generasi muda dengan warisan leluhur, menghubungkan spiritualitas dengan ekologi sakral, serta menghubungkan penelitian akademik dengan kerja kesenian.