ACL Space

Ketika Film Jadi Bahasa untuk Menggali Perasaan: Malam Screening dan Bedah Film Jenggala di Kampus Indie

Malam itu, Jumat, 21 November 2025, Artcoffeelago berubah menjadi ruang gelap yang hening. Lampu yang biasanya menyoroti meja-meja kayu dan sudut-sudut yang penuh ornamen khas kini dipadamkan nyaris total. Yang tersisa hanya cahaya redup dari proyektor yang menyala, mengarah ke dinding putih yang dijadikan layar improvisasi. Sekitar dua puluhan orang duduk lesehan di atas karpet tipis yang menutupi lantai plester ACL Space, dengan komposisi peserta yang sangat beragam: mahasiswa IT, dosen dari berbagai disiplin ilmu, fotografer, videografer, seniman crafting, penulis, pecinta alam, hingga pengusaha UMKM. Suasana terasa berbeda dari biasanya, tidak ada suara ngobrol santai, tidak ada cangkir kopi yang berdenting. Semua mata tertuju pada layar, menunggu film dimulai.

Begitulah Kampus Indie: Screening & Bedah Film edisi kali ini berlangsung, menghadirkan Anugrah Thoriq, sineas muda asal Mataram yang kini menjadi alumni Akademi Film Yogyakarta. Film pendek yang ditayangkan malam itu berjudul Jenggala, berdurasi sekitar 11 menit, sebuah karya tugas akhir yang telah memboyong sejumlah penghargaan. Peserta Kampus Indie benar-benar menyimak, tidak sekadar menonton atau melihat. Sejenak semua yang hadir seperti tersihir dengan tingkat kepadatan rangkaian emosi dalam setiap scene yang tersaji pada film pendek itu.

Anugrah Thoriq, sineas muda asal Mataram, alumni Akademi Film Yogyakarta

Bukan Sekadar Menonton, Tapi Menyimak dengan Hati

Film Jenggala berangkat dari isu yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat di sekitar Yogyakarta dan Jawa Tengah. Thoriq, dengan latar belakang pendidikannya di Akademi Film Yogyakarta (AFY) atau Jogja Film Academy (JFA), membawa perspektif segar tentang bagaimana sebuah film pendek bisa berbicara tentang realitas sosial dan ruang personal tanpa harus keras kepala dengan teori-teori kaku.

Ketika lampu kembali menyala setelah pemutaran selesai, tidak ada yang langsung berbicara. Ada jeda hening yang terasa bermakna, sebelum akhirnya moderator membuka sesi diskusi dan bedah film. Thoriq duduk santai di depan, tidak dengan gaya dosen yang menggurui, tapi seperti teman yang siap berbagi pengalaman.

Pemutaran film pendek berjudul “Jenggala”

What is Film? Memori dan Visi Sutradara

Thoriq membuka presentasinya dengan kutipan dari Akira Kurosawa, sutradara legendaris dari film Seven Samurai: “Film and director’s vision it is the power of memory that gives rise to the power of imagination.” Ini menjadi slide pembuka yang dipresentasikan Thoriq terkait sebuah film. Tidak ada pakem yang kaku. Intinya, kata Thoriq, film itu tentang bagaimana kita menuturkan apa yang kita rasakan, hingga akhirnya rasa itu tercipta juga pada penontonnya.

“Memori yang tersimpan dalam diri seseorang adalah semacam kunci yang penting dalam membuat sebuah film,” jelasnya dengan nada santai tapi tegas. Hal ini kemudian berkaitan dengan dunia praktis di dalam penyutradaraan, sehingga dalam dunia penyutradaraan seringkali teori-teori lebih banyak dikesampingkan, terutama saat sang sutradara sudah mendapatkan bagaimana cara men-deliver memori dan rasa atas suatu peristiwa yang mau dia sampaikan.

Bagi Thoriq, film bukan soal mengikuti formula atau aturan baku yang diajarkan di buku teks. Film adalah cara paling jujur untuk menyampaikan pengalaman, emosi, dan perspektif yang belum sempat diucapkan dengan kata-kata biasa.

Behind the Scene: Dari Ide hingga Layar

Thoriq kemudian melanjutkan slide-nya yang menjelaskan tentang bagaimana behind the scene dari produksi film Jenggala. Mulai dari rancangan ide cerita, detail visual yang diinginkan, gear yang tepat untuk digunakan, talent profesional yang akan dilibatkan, developing karakter dan plot cerita, reading naskah, serta berbagai detail dari praproduksi, produksi maupun post-production serta tantangan dan masalah teknis yang menyertainya, ini semua menjadi sangat menyedot perhatian peserta Kampus Indie di malam itu.

Momen diskusi Anugrah Thoriq dengan peserta Kampus Kndie

Sutradara muda dari Lombok ini menjelaskan bagaimana semua berawal dari tim yang solid bermodal trust dan yakin mengenai ide cerita dan project filmnya. Berangkat dengan ide cerita yang dekat sekali dengan permasalahan warga di sekitaran Yogyakarta dan Jawa Tengah, pintu masuknya adalah Tugas Akhir di kampus Akademi Film Yogyakarta (JFA).

Thoriq, yang sudah memboyong beberapa penghargaan melalui film Jenggala ini, melanjutkan berbagi tentang iklim pembelajaran dan pengkaryaan di kampusnya yang lebih banyak dikawal oleh para dosen yang juga merupakan praktisi senior di dunia sinema. Para mentor, begitu Thoriq menyebutnya, yang juga memiliki jaringan di industri perfilman nasional. Tidak ada gaya pembelajaran yang lembek. Semua mahasiswa digembleng dengan tegas, dibantu menemukan kesalahan dari rangkaian proses pengkaryaan mahasiswanya mulai dari pencarian ide, shooting, editing bahkan jauh setelah proses itu, tanpa mencampuri dan merusak orisinalitas pengkaryaan dari mahasiswa itu sendiri.

“Di JFA, mentor-mentor kami nggak cuma ngajar teori,” ujar Thoriq sambil menggeser slide presentasi. “Mereka praktisi yang masih aktif di industri. Jadi mereka tahu persis bagaimana kondisi lapangan, bagaimana film bekerja, dan bagaimana bertahan di industri yang nggak pernah mudah.”

Tantangan Terbesar: Menjaga Visi di Tengah Interpretasi yang Kompleks

Thoriq menjelaskan tantangan tersulit bagi seorang sutradara adalah bagaimana visi seorang sutradara bisa sampai terwujud mendekati sempurna sekalipun ada gesekan perbedaan interpretasi, yang biasanya tidak sederhana, kompleks, dari tim maupun setiap orang yang terlibat dalam proses pengkaryaan sebuah film.

Dia menyampaikan bagaimana komposisi timnya yang terlibat dalam project Tugas Akhirnya ini sebagian besar adalah mahasiswa juga, dari kampus-kampus yang berbeda yang ada di Yogyakarta. Thoriq melanjutkan bahwa bonding dan proses dalam saling membantu untuk menjaga mood selama proses pengkaryaan sebuah film adalah hal-hal yang sangat penting untuk terus diperjuangkan bersama.

“Film itu kerja kolektif,” tegasnya. “Tapi sutradara harus punya visi yang jelas. Kalau visi nggak jelas, tim akan kebingungan. Tapi kalau visi terlalu kaku, kolaborasi jadi mati. Ini yang susah, menjaga keseimbangan antara visi dan ruang bagi interpretasi tim.”

Aktor Bukan Pembohong: Deck Karakter dan Kejujuran Peran

Lebih jauh lagi, Thoriq merespon sebuah pertanyaan dari seorang mahasiswa terkait pemilihan aktor untuk setiap karakter yang ada di filmnya. Dia menjawabnya dengan menampilkan sekaligus membongkar secara detail “Deck” dari setiap karakter yang ada pada film Jenggala.

Penjelasannya berlanjut ke benang merah bahwa aktor sebenarnya bukan pembohong atau sekadar berpura-pura, aktor adalah mereka yang mampu menyampaikan kejujuran dari sebuah karakter secara utuh. Detail terkait hal ini dilanjutkan hingga penjelasan tentang bagaimana aktor itu menjadi “berjodoh” dalam menjiwai karakter yang diperankannya.

“Ketika saya casting, yang saya cari bukan orang yang paling ganteng atau paling cantik,” jelas Thoriq sambil menunjukkan deck karakter di layar. “Yang saya cari adalah orang yang bisa jujur dengan karakter itu. Orang yang ketika dia membaca naskah, dia bisa merasakan apa yang karakter itu rasakan. Itu yang saya sebut ‘berjodoh’ dengan karakter.”

*Gelap dan Terang: Realita Industri Film yang Ironis
*
Sebagai penutup, Thoriq berbagi sedikit tentang gelap dan terang serta kondisi in between di dalam industri film, terutama industri film lokal dan nasional yang terkadang ironis dan sebenarnya mengagetkan bagi mereka yang baru mengetahuinya. Dinamika antara idealisme, kualitas sebuah film dengan permintaan penonton maupun kesiapan pembiayaan sebuah film disampaikan kepada peserta Kampus Indie di malam itu.

Hingga bagaimana selera “umum”, tuntutan pasar maupun tuntutan pemodal menjadi faktor utama yang mempunyai posisi tawar dengan power dan peran yang besar dalam mendorong dan melahirkan sebuah film.

Thoriq, dengan senyum tipisnya, memastikan kepada peserta Kampus Indie bahwa sebuah film yang bagus, sukses ataupun monumental itu adalah hasil kerja kolektif dan kolaboratif dari para profesional.
“Jangan kaget kalau nanti kalian masuk industri,” ujarnya dengan nada realistis. “Ada banyak hal yang nggak ideal. Ada film bagus yang nggak laku, ada film yang standar tapi meledak di pasaran. Ada sutradara yang harus kompromi dengan pemodal, ada pemodal yang nggak ngerti film tapi punya uang. Tapi di tengah semua itu, yang penting adalah kita nggak kehilangan visi kenapa kita bikin film.”

Malam yang Membongkar Persepsi tentang Film

Malam itu, di Kampus Indie, dengan santai namun elegan, Thoriq berhasil membongkar memori kita tentang “film” yang selama ini tercetak sebagai sebuah hiburan yang ringan dan dikonsumsi pada weekend, menjelma menjadi paket pengetahuan baru tentang sebuah karya seni dengan kompleksitas pengkaryaan serta penjagaan kualitas yang sama sekali tidak main-main.

Peserta yang hadir dari mahasiswa IT, dosen berbagai disiplin, fotografer, videografer, seniman crafting, penulis, pecinta alam, hingga pengusaha UMKM, pulang dengan perspektif yang berbeda tentang film. Film bukan lagi sekadar tontonan, tapi medium untuk menyampaikan memori, emosi, dan visi yang belum sempat diucapkan dengan kata-kata biasa.

Ketika acara berakhir dan peserta mulai berpamitan satu per satu, beberapa masih sempat berdiskusi kecil dengan Thoriq di pojok ruangan. Ada yang bertanya tentang peluang belajar film, ada yang ingin tahu lebih dalam tentang proses editing, ada juga yang sekadar ingin bilang “terima kasih” karena malam itu membuka mata mereka tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik layar sebuah film.
Kampus Indie: Ruang Belajar yang Nggak Merasa Seperti Belajar

Yang membuat Kampus Indie berbeda dari kuliah formal adalah konsepnya yang sederhana tapi revolusioner: nongkrong yang diarahkan untuk mempelajari sesuatu. Di sini, belajar bukan kewajiban yang memberatkan, tapi bagian alami dari kehidupan sehari-hari yang menyenangkan dan mengubah perspektif.

Tak ada ruang kelas formal, tak ada meja kursi yang kaku, atau papan tulis yang intimidatif. Yang ada hanya lantai plester yang dilapisi karpet tipis, beberapa bantal yang tersebar, meja lipat kecil tempat naruh kopi dan catatan, plus proyektor sederhana untuk menonton film.

Kampus Indie membuktikan bahwa pembelajaran paling bermakna justru terjadi di ruang yang hangat dan bersahaja, di mana orang-orang dengan latar belakang berbeda berkumpul, berbagi pengalaman, dan saling belajar tanpa merasa sedang “digurui”.
Malam itu, Artcoffeelago bukan cuma tempat ngopi. Malam itu, ruang sederhana ini berubah jadi bioskop kecil, ruang diskusi, dan laboratorium pemikiran tentang film, seni, dan kehidupan.

Ketika Film Jadi Bahasa untuk Menggali Perasaan

Film Jenggala dan sesi bedah film bersama Thoriq menunjukkan bahwa film adalah bahasa yang paling jujur untuk menggali dan menyampaikan perasaan yang belum sempat diucapkan. Di tengah zaman di mana konten visual diproduksi dan dikonsumsi dalam hitungan detik, Kampus Indie mengajarkan hal yang paradoks: semakin banyak kita menonton, semakin penting untuk menonton dengan sengaja, dengan penuh perhatian, dengan hati yang terbuka.

Pembelajaran tidak terjadi di antara dinding studio recording atau di depan komputer dengan perangkat editing yang canggih. Pembelajaran terjadi di sini, di ruang yang sederhana, dengan orang-orang yang sama-sama penasaran tentang apa yang sebenarnya kita rasakan ketika kita menonton sebuah film.

F_ilm bukan sekadar hiburan. Film adalah jembatan antara visi sutradara dan perasaan penonton yang belum sempat diucapkan._

Kampus Indie: when cinema meets coffee, and filmmaking becomes conversation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *