ACL Space

Lingkar Riset Rinjani #1: Ketika Antropologi dan Kopi Tubruk Bertemu di Karpet yang Sudah Mulai Tipis

Lingkar Riset Rinjani membuktikan bahwa sometimes, the best research discussion happens not in lecture halls, tapi di lantai plester yang dilapisi karpet tipis, dengan secangkir kopi tubruk yang masih hangat di meja lipat.

Kamis malam itu, ruang utama Artcoffeelago terasa berbeda dari biasanya. Lampu yang biasa menyoroti meja-meja kayu kini menerangi lingkaran lesehan di atas karpet yang sudah agak tipis karena sering dipakai acara. Sekitar 20 orang duduk bersila membentuk oval tidak sempurna, dengan beberapa laptop yang terbuka di sana-sini, gelas-gelas kopi tubruk yang masih mengepul, dan sesekali terdengar suara sandal yang dilepas sebelum naik ke karpet.

Aroma arabika tubruk yang khas bercampur sedikit asap mild dari teras belakang, sementara kamera untuk live streaming YouTube channel Yagna Semesta Initiative sudah standby di ruangan segi enam itu.

Percakapan malam itu mulai bergeser dari small talk biasa jadi sesuatu yang lebih serius dan mengasyikkan.

“Antropologi itu ilmu keranjang sampah,” ujar Ahmad Fauzan, atau yang dipanggil Pak Ojan dari Universitas Nahdlatul Ulama NTB, dengan nada santai tapi langsung bikin telinga semua orang meruncing. “Maksudnya, semua bisa masuk. Semua aspek kehidupan manusia bisa dikaji dengan kacamata antropologi.” Peserta yang duduk melingkar saling pandang, ada yang nyengir paham, ada yang mengangguk sambil menyeruput kopi tubruk panas, ada juga yang langsung buka notes di handphone.

Beginilah Lingkar Riset Rinjani episode pertama dengan tema “Ngopi Bareng Antropolog: Ngulik Cara Meneliti Budaya Tanpa Kaku” berlangsung hampir 2 jam pada malam yang hangat itu. Program yang digagas Yagna Semesta Initiative ini memang dirancang beda. Tak ada auditorium formal, tak ada podium yang tinggi, atau slide PowerPoint yang intimidatif. Yang ada hanya karpet tipis di lantai plester, meja-meja lipat kecil tempat naruh kopi tubruk dan buku catatan, plus satu laptop di tengah untuk sesekali show materi sambil live streaming ke YouTube. Simple, tapi somehow bikin nyaman untuk ngobrol panjang.

Konsepnya sederhana tapi revolusioner: riset dan metodologi penelitian yang dikemas dalam suasana ngopi santai sambil dishare langsung ke audience online. Di sini, diskusi akademik bukan beban yang berat, tapi bagian natural dari nongkrong yang meaningful.

Real Fieldwork vs Ekspektasi: Dilema yang Sering Bikin Peneliti Pemula Galau

Pak Ojan membuka sesi dengan cerita yang langsung ngena: pengalaman riset di lapangan yang beda jauh dari teori di kelas. “Yang di buku itu ideal,” jelasnya sambil meregangkan kaki yang agak kaku karena duduk bersila di karpet tanpa sandaran, “tapi di lapangan, terutama kalau komunitas yang tertutup, strateginya harus lain lagi.”

Topik ini seperti menampar halus peserta yang mayoritas sudah punya pengalaman kerja di berbagai bidang, dari akademisi olahraga sampai pegiat pariwisata. Beberapa mahasiswa yang hadir juga langsung relate dengan pengalaman mereka yang sering bingung mulai riset dari mana.

“Saya pernah di Pulau Sula, Maluku Utara, hampir 2 bulan,” lanjut Pak Ojan sambil sesekali ngecek laptop yang ada di meja tengah, menyadari bahwa setiap kata yang dia ucapkan sedang terekam live di YouTube, “udah coba semua cara. Lewat kepala desa, gagal. Lewat pemuda setempat, tetap susah. Sampai akhirnya pakai pendekatan tasawuf, baru mau dibuka.” Kalimat ini langsung disambut tawa kecil dan anggukan dari peserta yang duduk lesehan di karpet. Ada yang sampai bergumam, “Wah, jadi peneliti tuh kayak agen rahasia ya.”

Teknik Lapangan: Dari “Buku Monyet” sampai Strategi “Senyap”

Diskusi berlanjut ke hal-hal praktis yang jarang dibahas di kelas metodologi formal: teknik-teknik lapangan yang beneran dipake peneliti berpengalaman. Pak Ojan menjelaskan dengan gaya bercerita yang asik tentang “buku monyet” untuk catatan ringkas dan “buku Kingkong” untuk deskripsi detail.
“Kalian tahu nggak,” kata Pak Ojan sambil menggeser posisinya di atas karpet, kopi tubruknya yang tadi panas kini mulai mendingin, “kalau sudah ketahuan kita peneliti, malah susah dapat data. Lebih baik senyap tapi datanya lengkap.” Peserta yang duduk melingkar langsung tertarik dengan strategi “undercover” ini. “Jadi kayak jurnalisme investigatif dong,” komen salah satu peserta, yang langsung disambut diskusi ringan tentang etika penelitian.


Yang menarik, komposisi peserta malam itu memang tidak didominasi mahasiswa. Justru lebih banyak praktisi yang sudah punya pengalaman di bidang masing-masing tapi penasaran dengan metodologi penelitian budaya. Ada yang dari background olahraga, pariwisata, sampai aktivis lingkungan yang kebetulan lagi nyari framework buat riset komunitas.

Plot Twist Spiritual: Ketika Diskusi Jadi Mendalam (Literally)

Momen paling unexpected terjadi sekitar sejam diskusi berjalan. Tiba-tiba seorang peserta yang duduk di bagian timur lingkaran kayak “masuk” ke dalam zone spiritual. Suaranya mulai melantunkan sesuatu yang mendalam tentang kesadaran dan ketuhanan dengan nada yang sangat khusyuk.

Ruangan sontak jadi hening total. Yang tadinya santai sambil lesehan dan chit-chat terkait materi yang disampaikan Pak Ojan, ada juga yang sesekali serius menyeruput kopi tubruk, seketika semua terpaku mendengarkan lantunan lirik dan musik spiritual yang berlangsung beberapa menit. “Aku meliputi segala sesuatu… Aku lebih dekat dari urat leher…”

Suasananya jadi sacred dan introspektif, padahal ini diskusi metodologi antropologi yang sedang live streaming. Pak Ojan dengan bijak merespon momen ini tanpa awkward, bahkan dengan kesadaran bahwa ini sedang ditonton online. “Nah, ini contoh bagaimana spiritualitas dan ritual juga bagian dari kajian budaya yang kita pelajari,” katanya setelah suasana kembali normal. Peserta yang lain pun nggak merasa aneh, malah jadi tambah appreciate kalau antropologi memang “ilmu keranjang sampah” yang bisa ngakomodir semua aspek kehidupan manusia.

Debat Santai: Antropologi Masa Lalu vs Masa Depan

Plot twist kedua datang ketika diskusi masuk ke ranah yang lebih kritis. Ada peserta yang spontan nyeletuk, “Antropologi itu kan fokusnya ke masa lalu terus, nggak ada visi ke depan. Kayak gagal membangun rasionalitas masyarakat.”

Bukannya defensif, Pak Ojan malah welcome banget sama kritik ini. “Eh tunggu,” katanya sambil senyum, gelas kopi tubruk masih di tangan, “Steve Jobs dan Elon Musk itu juga antropolog lho. Mereka bisa predict perilaku masyarakat masa depan, makanya produk mereka selalu hit.” Counter argument yang cerdas yang langsung bikin peserta “oooh” bareng-bareng.

Diskusi semakin seru ketika masuk ke topik sensitif: bagaimana antropolog kolonial seperti Van der Tuuk sengaja bikin dikotomi “Islam Wetu Telu” untuk memecah belah masyarakat. “Kita masih dimainkan sama Van der Tuuk sampai sekarang,” seru Pak Ojan dengan nada agak serius, bikin atmosfer di ruangan segi enam dengan karpet tipis itu jadi lebih intense.

Momen Lucu yang Bikin Memorable

Ada beberapa momen yang bikin sesi live streaming ini berkesan dan nggak kaku seperti seminar akademik pada umumnya:
Analogi “Saya Sudah Makan”: Pak Ojan ngasih contoh gimana satu kalimat sederhana bisa punya makna yang beda-beda tergantung konteks. Dari basa-basi sopan sampai ekspresi kesal pasangan yang lagi bertengkar. Dijelasin dengan gesture yang ekspresif sambil duduk bersila di karpet dengan lirikan ke tempe mendoan yang masih hangat, bikin seluruh lingkaran ketawa dan audience YouTube pasti juga ikutan ngakak.

Pertanyaan Random: Ada peserta yang tiba-tiba nanya “Allah punya agama nggak?” sambil ketawa nakal. Situasi langsung riuh, mixing antara yang ketawa, yang bingung, sama yang geleng-geleng kepala. Pak Ojan dengan santai bilang, “Wah, berat banget pertanyaannya.”

Momen Awkward tapi Lucu: Ada juga yang protes soal penggunaan salam bahasa Arab versus Indonesia, bilang itu “pembodohan”. Suasana sempet tegang dikit, tapi Pak Ojan dengan cool merespon, “Nah, ini juga kajian budaya tentang bahasa dan makna.”
Tanya Jawab yang Flow Banget
Yang bikin diskusi live streaming ini beda dari kuliah formal adalah interaksi yang very natural. Peserta nggak sungkan buat langsung tanya di tengah-tengah, interrupt dengan pengalaman pribadi, atau bahkan debate ringan sama narasumber.

Akademisi olahraga: “Pak, kita kan bukan budayawan, tapi pengin masuk komunitas buat riset. Gimana ya supaya nggak kaget budayanya?”

Pak Ojan: “Yang penting jangan keliatan kalau kita peneliti. Dan inget, kita datang buat belajar, bukan buat expose rahasia mereka.”

Praktisi pariwisata: “Antropologi bisa diterapin ke bidang lain kan ya? Bahkan jurnalistik?”

Pak Ojan: “Banget! 5W1H dalam jurnalistik itu basically antropologi. Makanya tadi saya bilang, antropologi tuh ‘ilmu keranjang sampah’ yang fleksibel banget.”

Endingnya: Time Flies When You’re Having Fun

Yang paling berkesan malam itu? Hampir 2 jam diskusi dan live streaming terasa cuma 30 menit. Peserta masih pada semangat, masih banyak yang mau ditanyain, peran digitalisasi dan dinamika netizen dalam dunia antropologipun masih tersisa di ruang tanya, tapi jam udah menunjukkan hampir tengah malam dan audience YouTube juga terbaca sudah cukup puas dengan konten yang didapat.

Yuga Anggana sebagai moderator sambil masih duduk bersila di tengah lingkaran, dengan kesadaran bahwa dia juga sedang berbicara untuk audience online: “Program ini akan reguler ya, kemungkinan sebulan sekali. Format kayak gini terus, lesehan santai tapi diskusinya deep. Dan tentu saja akan selalu live di YouTube channel Yagna Semesta Initiative.”

Beberapa peserta sempet lanjut ngobrol di spot-spot kecil setelah kamera streaming dimatikan. Ada yang masih duduk di karpet sambil buka notes, mungkin bukan catatan formal tapi refleksi personal tentang apa yang baru aja mereka denger. Ada juga yang tukar kontak, mulai network baru berdasarkan shared interest tentang riset budaya. Ada yang diam-diam sibuk dengan rencananya untuk coba ngemix antropologi dengan berbagai disiplin ilmu yang tersedia untuk diakses di Artcoffeelago Common Labora.
Yang Tertinggal: Pembelajaran di Luar Kelas yang Beneran Meaningful

Yang terjadi di Lingkar Riset Rinjani malam itu lebih dari sekadar transfer knowledge tentang metodologi antropologi. Ini tentang menciptakan space untuk intellectual curiosity yang genuine, something yang sangat dibutuhkan tapi jarang tersedia di format yang accessible dan bisa diakses siapa saja, bahkan lewat YouTube.

Research menunjukkan bahwa pembelajaran peer-to-peer dalam setting informal sering lebih efektif untuk retention dan practical application dibanding kuliah formal. Dan yang terjadi di karpet tipis ACL sambil live streaming malam itu adalah bukti nyata dari statement itu.

Program seperti ini menjawab kebutuhan akan pendidikan alternatif yang humanis, di mana riset dan metodologi nggak jadi aktivitas yang intimidating ataupun kaku, tapi pengalaman sosial yang memperkaya perspektif dan networking dengan people yang sama-sama passionate tentang cultural studies. Plus, dengan format live streaming, jangkauannya jadi lebih luas untuk siapa aja yang nggak bisa hadir langsung sambil ngopi bareng.

Lingkar Riset Rinjani membuktikan bahwa sometimes, the best research discussion happens not in lecture halls, tapi di lantai plester yang dilapisi karpet tipis, dengan secangkir kopi tubruk yang masih hangat di meja lipat, duduk lesehan bareng people yang curious enough untuk spend their Thursday night talking about ethnography and fieldwork methodology sambil dishare ke dunia maya.

Mulai tahun ini, setiap bulan, Lingkar Riset Rinjani membuka pintu untuk siapa aja yang hungry for knowledge dan ready for some real talk about research, culture, dan everything in between. Dan yang pasti, semuanya bisa diakses live di YouTube channel Yagna Semesta Initiative.

Lingkar Riset Rinjani: when research meets coffee, and methodology becomes conversation.

….

Tonton replay diskusi lengkapnya di YouTube channel Yagna Semesta Initiative

LingkarRisetRinjani #ResearchMeetsCoffee #MetodologiJadiPercakapan #YagnaSemestaInitiative #ArtcoffeelagoCommonLabora #ACLSpace

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *