ACL Space

Jatiswara Mahardika: Dari Lensa Lokal ke Panggung Global

Prolog: Dari Gandrung ke Bayan

Saya pertama kali bertemu Jatiswara Mahardika sekitar 2018. Saat itu kami sama-sama terlibat dalam proyek dokumenter Tari Gandrung Dasan Tereng dan Periang Topat di Lombok Barat. Proyek itu membuat kami sering bertemu, ngobrol, lalu perlahan hubungan profesional berubah jadi hubungan personal. Ada semacam rasa: “oke, anak ini bukan sekadar videografer proyek yang datang lalu pergi, tapi memang punya jiwa yang nyemplung total ke dalam kerja-kerja budaya.”

Kalau dipikir-pikir, sulit mencari orang seperti Jati di Lombok. Mayoritas videografer di sini larinya ke pasar komersial—wajar saja, karena dunia wedding, pre-wedding, dan event korporasi lebih menjanjikan cuan. Sementara Jati? Dia memilih jalan yang agak nyeleneh: mengabdikan kamera untuk kebudayaan, terutama kebudayaan masyarakat adat Bayan, Lombok Utara.

Di Bayan, Jati sudah seperti keluarga. Ia nongkrong, tinggal, bahkan tidur di rumah-rumah warga adat. Tidak ada jarak antara dia dengan masyarakat sana. Hubungan yang biasanya steril—“kameramen di depan, objek di belakang”—di tangan Jati mencair jadi relasi kekeluargaan. Makanya jangan heran kalau dia punya ribuan footage aktivitas adat Bayan. Ribuan! Itu bukan sekadar arsip visual, tapi semacam bank memori kolektif yang kelak bisa jadi warisan budaya.

Insting Visual: Estetika + Makna

Yang bikin saya kagum, insting visual Jati tajam. Banyak orang bisa bikin video bagus—sekarang anak SMP pun kalau dikasih kamera mirrorless bisa menghasilkan gambar “cinematic.” Tapi Jati bukan cuma jualan visual. Ia paham bahwa setiap footage bukan sekadar soal komposisi cahaya atau angle kamera, melainkan soal makna.

Ambil contoh videonya soal lutung hitam (Trachypithecus auratus) di Taman Nasional Gunung Rinjani. Judulnya Harmony of The Jungle: Black Langur. Saya nonton, terhenyak. Visualnya menawan, tapi yang lebih menggedor kepala adalah gagasan di baliknya.

Lutung hitam adalah primata langka yang statusnya “rentan” menurut IUCN. Populasinya terus menyusut akibat perburuan liar dan konversi hutan jadi lahan pertanian atau permukiman. Hewan ini punya peran vital dalam siklus reproduksi hutan: ia menyebarkan biji dari pohon ke pohon, menjaga keberlangsungan regenerasi ekosistem. Melindungi lutung berarti melindungi hutan.

Nah, Jati berhasil mengemas isu konservasi itu dalam bahasa visual yang gampang dicerna publik. Tidak ada jargon teknis ekologi yang ribet, cukup gambar seekor lutung melompat dari dahan ke dahan, lalu narasi ringan soal perannya dalam rantai makanan. Dan—bam!—pesannya kena.

Dalam hati saya bergumam: “Wah, anak ini sudah kelas internasional.” Gumaman itu tidak berlebihan. Karena tak lama setelahnya, Jati terjun jadi fotografer dan videografer resmi untuk MotoGP Mandalika. Dari lutung hitam ke Marc Márquez. Dari hutan ke sirkuit. Kontras, tapi justru di situlah uniknya perjalanan seorang Jatiswara.

Dari MotoGP ke If Not Us Then Who?

Keterlibatan Jati di panggung internasional semakin kentara ketika ia mengirim tautan video dari akun Instagram @ifnotusthenwho. Isinya trailer film partisipatif global yang melibatkan 77 filmmaker dari 28 negara. Salah satunya? Ya, videografer asal Lombok ini.

Proyek itu digarap oleh organisasi If Not Us Then Who?—sebuah kampanye kesadaran global yang fokus pada masyarakat adat dan komunitas lokal. Intinya sederhana tapi menghantam: kalau bukan kita yang menjaga hutan dan bumi, siapa lagi? Pemerintah? NGO besar? Politisi yang lebih sibuk kampanye? Ah, jangan terlalu berharap.

Di proyek ini, Jati merekam kisah Raden Apriadi, seorang guru yang mengajak anak-anak mengenal tumbuhan obat dan pangan lokal di hutan adat Montong Gedeng. Sederhana, tapi penuh makna. Kamera Jati menangkap wajah-wajah sehari-hari yang mungkin sering kita anggap “biasa.” Padahal di situlah kunci: yang sehari-hari justru adalah yang paling penting untuk dilestarikan.

Film ini akan tayang serentak di seluruh dunia pada Hari Bumi 2026. Bayangkan: footage dari Montong Gedeng akan diproyeksikan di layar bioskop New York, Los Angeles, atau mungkin festival film internasional. Rasanya ajaib, tapi nyata.

If Not Us Then Who? Sebuah Tamparan Halus

Mari kita bahas sedikit soal organisasi ini. If Not Us Then Who? adalah gerakan yang lahir untuk mengangkat suara masyarakat adat dan komunitas lokal. Mereka percaya bahwa narasi lingkungan tidak boleh dimonopoli ilmuwan, politisi, atau korporasi. Karena yang sebenarnya menjaga hutan adalah orang-orang yang hidup di dalamnya.

Mereka punya empat fokus utama:

  1. Membuat Film & Media: Kisah nyata masyarakat adat, direkam oleh orang dalam sendiri.
  2. Mengamplifikasi Suara: Jadi platform global, bukan sekadar pajangan eksotis.
  3. Transfer Pengetahuan: Melatih pembuat film lokal, biar kisah mereka tak perlu “diterjemahkan” orang luar.
  4. Mendorong Aksi Nyata: Dari layar ke kebijakan, dari film ke gerakan sosial.

Kalau mau sarkas sedikit: ini seperti anti-tesis dari proyek-proyek konservasi yang kadang lebih sibuk bikin laporan donor ketimbang benar-benar mendengar suara lokal.

Kamera Sebagai Senjata Budaya

Di titik ini, saya jadi berpikir: kamera bagi Jati bukan sekadar alat rekam. Kamera adalah senjata. Senjata budaya. Senjata yang bisa membuat suara Bayan, Montong Gedeng, bahkan lutung hitam sekali pun, terdengar sampai New York.

Kamera Jati menjembatani dua dunia: dunia lokal yang sering dianggap “kecil” dan dunia global yang rakus narasi “besar.” Dengan bidikan lensa, batas itu runtuh.

Usulan: Jatisvara Visual Movement

Saya sempat menyarankan ke Jati: bikin bendera sendiri. Jangan cuma jadi sub-kontraktor proyek global. Namai gerakanmu sendiri. Saya usul: Jatisvara Visual Movement.

Kenapa Jatisvara? Karena dalam lontar, Jatiswara adalah ajaran moral dan spiritual: tentang perjalanan jiwa, tentang dialog manusia dan Tuhan, tentang manunggaling kawula gusti. Dan memang itulah yang dilakukan Jati—melalui kamera, ia merekam dialog manusia dengan alam, manusia dengan budaya, manusia dengan Tuhan.

If Not Him, Then Who?

Di era digital, semua orang bisa jadi content creator. Tapi tidak semua orang punya kesabaran untuk merekam hutan, atau kepekaan untuk menangkap makna dari ritual adat. Jatiswara Mahardika adalah pengecualian.

Dari footage Gandrung Dasan Tereng sampai dokumenter lutung hitam, dari MotoGP Mandalika sampai proyek global If Not Us Then Who?, ia sudah membuktikan bahwa karya lokal bisa menembus panggung global.

Dan buat saya, ini bukan cuma soal prestasi personal Jati. Ini cermin: kalau ada satu anak Lombok bisa mengibarkan kamera ke panggung dunia, kenapa kita—komunitas, pemerintah daerah, bahkan publik penonton—masih ragu untuk mendukungnya?

Kalau bukan kita yang mendukung, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

If not him, then who?

Harmony Of The Jungle , Eps. Black LANGUR digarap oleh Jatiswara Mahardika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *