Molang Maliq Mualan Benyer lahir dari keresahan sekaligus harapan untuk memuliakan kembali mata air sebagai pusat kehidupan masyarakat. Perhelatan ini digagas oleh Yuga Anggana bersama Perkumpulan Seni Menduli Selayar, dikerjakan secara kolektif oleh masyarakat Desa Telaga Waru, dan didukung penuh oleh Pemerintah Desa. Pada akhirnya, ia menjadi sebuah gerakan budaya akar rumput yang tidak hanya merayakan tradisi, tetapi juga membangun kesadaran ekologis, spiritual, sosial, dan ekonomi.
Gelaran ini diisi dengan pembersihan kawasan mata air Mualan Benyer melalui gotong royong warga, penuangan cairan ekoenzim, dan penanaman pohon, disertai ragam ritual adat yang selama ini hampir terlupakan: Nyembulaq, Ngorasan, Potong Sapi, hingga Besuq Menik. Rangkaian ritus itu dipadukan dengan doa, dzikir bersama, ritual mandi pengantin, mandi anak khitan, dan prosesi penyembuhan. Semua dijalankan sebagai ungkapan syukur sekaligus pengikat hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta.
Perhelatan ini juga menghadirkan pentas seni masyarakat—dari qasidah, hadrah, musik kontemporer, hingga pertunjukan inovatif Kebangru’an—yang menjadikan kawasan mata air berubah menjadi ruang publik budaya. Di saat yang sama, masyarakat pelaku UMKM mendapat ruang melalui bazaar produk lokal, sehingga kegiatan ini tidak hanya menyejukkan jiwa, tetapi juga menghidupkan perekonomian desa.
Yang membuatnya semakin berarti, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia memberikan dukungan penuh, menempatkan perhelatan ini dalam kerangka Strategi Pemajuan Kebudayaan. Hadir pula Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB, Kepala Bidang Kebudayaan Kabupaten Lombok Timur, serta sejumlah tokoh seni budaya dari luar Desa Telaga Waru. Kehadiran mereka memberi legitimasi sekaligus menguatkan pesan bahwa perhelatan ini bukan sekadar pesta lokal, melainkan model pengelolaan kebudayaan berbasis masyarakat yang patut dicontoh di wilayah lain.
Meskipun mendapat dukungan dari berbagai pihak, yang paling dominan tetaplah partisipasi masyarakat sendiri. Molang Maliq adalah perhelatan dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat—sebuah kerja kolektif yang menegaskan bahwa desa mampu mengelola ruang budaya dan lingkungannya secara mandiri.
Manfaatnya meluas jauh ke luar desa. Bagi dunia pendidikan, perhelatan ini menjadi laboratorium hidup untuk mempelajari ekologi, seni tradisi, ritual, dan praktik sosial yang kaya makna. Para pelajar dan peneliti dapat menjadikannya rujukan dalam kajian budaya, lingkungan, hingga pembangunan masyarakat. Bagi pariwisata, ia menawarkan model wisata budaya dan ekowisata berbasis partisipasi warga, yang tidak sekadar menjual eksotisme tradisi, tetapi menghadirkan pengalaman spiritual dan sosial yang otentik. Bahkan bagi dunia seni, ia membuka ruang kolaborasi baru, tempat seniman lokal dan luar desa dapat bereksperimen sekaligus merawat akar tradisi.
Dengan demikian, Molang Maliq Mualan Benyer berdiri bukan hanya sebagai perhelatan tahunan, melainkan sebagai gerakan inspiratif. Ia menandai bahwa pemajuan kebudayaan dapat dimulai dari hal sederhana—membersihkan mata air—yang kemudian berkembang menjadi gelaran akbar yang menyentuh aspek spiritual, ekologis, sosial, ekonomi, pendidikan, hingga pariwisata.
https://shorturl.fm/pro9y